Kejutan Saat Lebaran Atau Idul Fitri

Leave a Comment
image : google.com

Kali ini mau bercerita tentang lebaran di keluarga gue, sebelumnya mengucapkan minal aidin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin. Di hari yang barokah dan menyenangkan ini, gue menemukan banyak sekali kejutan yang menimpah diri gue, biasanya di hari lebaran gue akan menemukan kaleng biskuit yang ternyata isinya renginang, tidak hanya sampai disitu aja ketika makan renginang tersebut rasanya seperti gigit batu akik, keras. Ini lebih keras dari gengsi atau ego orang yang suka sama kita untuk ucapkan "aku suka kamu" atau bahkan "kamu lagi apa?", setelah menemukan kejangalan pertama pada keleng biskuit. Gue menemukan kejutan yang kedua.


Kejutan kedua ada pada opor ayam, saat makan opor ayam apalagi bagian pahanya gue selalu meneliti terlebih dahulu paha ayam tersebut apakah ada hitam-hitamnya atau tidak, kalau ada warna hitam dicurigai kena knalpot. Tapi kalau enggak siap-siapa aja gue makan. Suap demi suap makan opor ayam emang nikmat sampai kadang makannya terburu-buru dan menemukan bahwa yang digigit adalah lengkuas, bukan daging.  Rasanya gigit lengkuas itu pedes, lebih pedes daripada dinyinyirin mantan pacar. Lebih pedes daripada ditolak gebetan dengan alasan "aku gak bisa pacaran deh", dan selang beberapa hari dia jadian sama temen kita. Sakit, sakitnya tuh disini. Nunjuk hati.  Kuah opor ayam yang kuning, wanginya yang semerbak kadang membuat kita berhalusinasi bahwa paha ayam tersebut sedang memanggil-manggil kita untuk segera dinikmati tanpa tarif short time atau long time. Tapi ketika baju baru kita kena kuah opor ayam. Tamatlah sudah rasa ingin menikmati karena yang ada hanya jengkel aja. Ngilangin nodanya itu susah tauk. Huft.

Kejutan yang ketiga, selama ngumpul dengan keluarga besar dari yang awalnya cuma salam-salaman sampai akhirnya banyak sekali pertanyaan yang enggak ngenakin, mungkin sebagian orang pernah ngalaminnya dan termasuk gue. Pertanyaan "kapan nikah?" Buat gue itu biasa aja karena ada yang lebih serem daripada itu, lebih serem daripada kalau zombie beneran ada dan gue tinggal sendiri lalu harus mencari penawar racun supaya masyarakat bisa sehat kembali. Oke, gue mulai kerasukan Resident Evil. Tapi ya lambang laboratorium di Resident Evil ini lucu soalnya payung. Coba kalau di Indonesia emang bener ada, laku keras pasti Ojek Payung. Kembali ke masalah pertanyaan yang bikin gue hening terdiam seperti ngeliat cewek cantik pakai kacamata rambutnya dicepol terus megang parang adalah "kok si Mumun engak kesini?" Iya, itu menyakitkan, karena sudah putus dengan Mumun. Makanya tips aja nih, jangan ajak pacar untuk ke rumah Nenek/Kakek karena ketika kita putus, pertanyaan itu akan terlontar dan menyakiti kita sendiri. Dan itu baru aja terjadi ke gue. Gue langsung duduk di pojokan, ngemilin kueputri salju sampe tiga toples, sedih rasanya.

Setelah banyak hal yang terjadi lebaran tahu 2014 ini, gue bersyukur banget masih bisa ketawa-ketawa bareng keluarga meski harus bangun kesiangan. Meski harus diteriakin anak kecil sambil bilang "lebaraaan aa" lalu nedengin tangan pas dikasih duit duarebu pada ngoceh "dapet apaaan duarebu?" Lalu kita akhirnya ngasih goceng. Yang dewasa mendadak dompetnya kempes dan anak-anak dompetnya tebal. Inilah yang terjadi di lingkungan keluarga gue.  Menyenangkan, sebelum ada yang kena tembak mainan tembak-tembakan lalu nangis kejer.

0 comments:

Post a Comment