Sepenggal Kisah di Yogyakarta

1 comment

Kali ini gue mau ngasih kisi-kisi tentang ujian snmptn dalam mata pelajaran geografis, karena beberapa waktu yang lalu gue sendiri sempat main ke Yogyakarta dalam rangka cuma mau numpang tidur aja, habis bagaimana ya kebetulan kamar tidur di rumah kalau lagi hujan suka ada air terjun gratis.
Sebelum sampai di Yogyakarta yang kata sebagian orang ini kotanya pelajar dan banyak sekali kenangan serta orang-orang yang jatuh cinta. Gue pribadi harus tawakal karena pacar sedang dalam genggaman yang lebih membutuhkan. Banyak hal yang masih gue inget sampai sekarang walau ke kota Yogyakarta sendiri tahun 2013 tepatnya bulan Oktober.
Sepulang dari kantor gue langsung berangkat ke Yogyakarta numpang kereta dari stasiun pasar senin, dalam keadaan kumel belum mandi dan masih lengkap seragam kantor. Tampang boleh lesuh tapi hati tetap hello kitty. Bukannya sombong nih, walau sebenernya ada niatan mau pamer, gue ke Yogyakarta sendirian aja tanpa ditemenin sama orang-orang yang gue sayang. Tolong dong peluk gue.
Gak nyangka kalau dari Tangerang Selatan ke Yogyakarta itu jauh banget, saking jauhnya gue naik kereta pake helm. Aduh, ini ngaco.
Di dalam kereta ekonomi, sekarang sudah enak ada ACnya, dulu sebelum gue diserang negara api di kereta ekonomi itu cuma ada kipas dan sebagian orang bakal mangap-mangap depan kipasnya untuk nyiptain suara robot. Tapi sekarang enggak, kalau naik kereta ekonomi udah serasa di hotel banyak orang-orang yang tidur di bawah kursi pakai koran. Aneh aja sih menurut gue, tidur kok pakai koran, kan koran untuk dibaca bukan ditidurin.

........................................................................................
itu adalah keheningan gue selama di dalam kereta, enggak banyak bicara karena emang sendirian, enggak bisa tidur karena disamping gue anak kecil yang lagi main domikadoeskado.

Sesampainya di kota Yogyakarta hal pertama yang gue lakukan adalah tersenyum karena mengawali hari dengan tersenyum akan lebih baik lagi. cieee motivator.
Awalnya sih sempet pesimis enggak mungkin seorang yang culun, polos seperti gue bakal sampai di Yogyakarta. Tapi kehendak berkata lain, kita akan gagal apabila tidak mencoba, kebetulan gue coba aja ke Yogyakarta ehhh,,, nyampe..

Karena udah sampai Lempuyangan, gue sempet foto sama kereta, foto bareng poster tulisan Setasiun Lempuyangan dan bareng tukang ojek di Setasiun. Gue udah merasa gaul tanpa harus check-in di foursquare. Karena gue gak punya akun foursquare, weeeeek!
Berhubung gak tahu jalan menuju penginapan dan bingung mau mencari kemana si Dora, gue berinisiatif menghubungi Ara (@bukanadelia), dia mau jemput gue, tapi gue malah jalan kaki karena gak sabaran, maklum gue orangnya emang cool. Sesampai di penginapan, ternyata Ara sampai di Setasiun. Ara sempet ngambek, gue uhuk-uhuk-in dia gak sadar, ternyata dia gak peka. Gue sedih.
Cewek kalo udah ngambek, caranya emang cukup di cieeee-cieeee-in aja. Contoh "Cieeeee, ngambek. Kalo begitu absen dari bahagia dong". Iya, tapi gue gak berani buat ungkapkan lebih dari tiga kata, karena cewek kalo ngambek bisa ngeluarin kamehameha. Oke, ketika berpapasan dengan Ara, cuma bisa bilang "Hay, Ara".. Kemudian ketemu lagi "Hay, Ara".. Dan ketemu lagi "Hay, beli pempek dong".. Gak ada obrolan perihal apapun selain 3S; Sapa, Senyum dan SubhanAllah, itu yang namanya Ara, kalo senyum giginya keputihan karena gak pernah kumur-kumur make Resik-V sabun sirih. 
Karena emang Ara lebih seneng mandi bola, gue memutuskan untuk bergabung dengan anak anak sesat aliran sungai. Kita nyanyi-nyanyi, dari dangdut, koplo, pop, sampai nyanyi dalam hati masing-masing yang lukanya tak terlihat. 

Banyak jadwal yang sudah diatur selama di Jogja, seperti ke Bukit Bintang, Gembira Loka Zoo atau ke Sarkem. Untuk ke Sarkem, gue gak berani kata mamah jajan sembarangan bikin sakit perut. Apalagi di sana banyak yang basi. Jadi, lebih baik makan yang sehat saja seperti semur jengkol atau cireng.

Bersama dengan berlarinya waktu, kita malam minggu di Bukit Bintang, melihat kota Jogja yang lampunya tamaram kek kunang-kunang lowbat. Selama di Bukit bintang gue jutek sama gelas kopi yang isinya tumpah karena gak gue jamah. Gue merasa bahagia karena bisa kumpul sama teman-teman yang sudah kenal tapi sebagian jarang atau bahkan belum bertemu.
Sebaliknya dari Bukit Bintang, gue meriang, panas dingin, keringet dingin, sampai muntah-muntah. Terima kasih Jogja, kau menerima muntahanku di tanah pelajar. Oiyah, satu hal yang gue inget saat itu, Ibu gue udah makan belum ya?

Dihari kedua gue sempet sedih karena sorenya harus balik lagi ke Jakarta, belum sempet ke Malioboro ngecengin bule yang jajan gorengan, atau ke Borobudur yang katanya banyak orang foto-foto selfie. Banyak tempat yang enggak gue kunjungin selama di Yogyakarta disebabkan tubuh ini yang ringkih dan kurang kasih sayang. Tolong dong, kamu sayang aku.

Minggu pagi di Jogja, dihabiskan untuk bercengkaram, bercerita, atau bahkan bernyanyi sampai pukul 12 siang. Semua berlalu begitu saja, tanpa terasa.
Gue selama di Jogja sekamar dengan Dimastayo, rezaariesta, mas Wicak dan juga makhluk astral lainnya. Terutama Dimas, dia orang yang super-super ngeselin. You know, ada cewek yang manggil nama dia tapi dia malah nyaut dengan istigfar dan Reza, ada cewek yang manggil dia, dia malah batuk-batuk. Sedangkan gue, ada cewe yang manggil, gue malah tidur. Entah dengan  mas Wicak, mungkin dia kalo dipanggil bakal menghampiri. Tapi kita semua kalo dipanggil yang maha kuasa semoga bisa minta dispensasi. Astagfirullah.

Selama sekamar dan semobil sama Dimastayo gue merasa bangga aja, bisa keringetan di mobil bareng, bisa joinan rokok bareng dan gue merasa kaget bahwa di kasurnya Dimas ada bulu-bulu halus yang entah mungkin dari hutan tropis. Selama di mobil sama Dimas, dia ngetawain gue karena gue sempet baca puisi yang judulnya "Gigi", "Pada senyumnya, keputihan giginya. aku terpukau dan ingin bilang, gosok gigilah memakai resik v sabun sirih".

Dan masih banyak lagi cerita yang gak bisa gue tuliskan disini, pokoknya kalian biasa di luar pantesan rambutnya pada pirang kepanasan.
Waktu memang terkadang kejam, rela memisahkan apapun kalau memang sudah masanya. Kadang saya ingin merusak jam. Supaya kita bisa lebih lama bersama, teman.

Sempet sakit di Jogja, karena kecapean. Sempet muntah-muntah di Jogja karena mual-mual. Untung saja gak hamil. Dan sempat melihat kindahan Jogja yang mungkin bisa berpindah ke mana saja. Kalian teman, kenang aku dengan segala tawa dan bahagia, bukan dengan airmata. Bahwa sesungguhnya sebagian tawaku disebabkan oleh lelucon kalian.

Saat di stasiun, kali ini gue berharap keretanya telat dateng karena pending atau apalah, tapi ternyata gak bisa, waktu terasa berlari atau bahkan naik mobil yang dipasang NOS. Entahlah, stasiun Lempuyangan saat itu terasa sangat mengharukan, ada hati yang tertahan memohon untuk tetap tinggal hanya supaya kita bisa bersama dan tertawa lagi. Tapi tetap gak bisa, mungkin ini pertama kalinya gue mau nangis karena teman, ketika di wisma tempat penginapan, kita sempat menyanyikan lagu yang liriknya "jika kita nanti tua dan hidup masing-masing ingatlah hari ini kawan", saat itu gue merinding dan rasanya mau peluk pacar orang lain saja.

Balik dari Jogja gue harus ke Solo dulu, karena kereta berangkatnya dari Solo, akhirnya kita berpisah di Lempuyangan karena harus balik ke kota masing-masing dan butuh waktu kembali untuk ngumpul dan berbagi tawa kembali tanpa dipisahkan jarak, sepertinya kita harus beli rumah satu blok di komplek supaya setiap hari ketemu dan jodohin anak kita masing-masing. Tapi please, gue gak mau jodohin anak gue sama anaknya roti buaya (baca: anaknya Iqbal), mau jadi apa bangsa dan negara ini.

Terima kasih, sudah hadir dalam cerita buku kehidupan saya. Lain waktu kita akan menusliskan cerita kembali yang lebih indah. Sampai bertemu lagi. Jogja atau kota lainnya. Yang dihadiri oleh kami perusuh untuk tetap rukun. Ada sedikit hal yang terjadi di malam itu, membuat saya mengerti bahwa semua terjadi begitu saja dan penuh dangan rasa.
 

1 comment: